Little Story : Prolog

e0180f82c6c5273050a86a282a597872

Prolog.

#1. Kim Jinhee

Incheon International Airport.

Seorang anak perempuan berusia delapan belas tahun berbalut pakaian santai tampak berjalan melewati pintu kedatangan bandara. Tangan kirinya tampak menarik sebuah koper, sedangkan tangan kanannya menggenggam sebuah ponsel yang baru saja diaktifkan. Sinar matahari dan semilir angin di penghujung musim semi menerpa lembut wajah putihnya.

Kim Jinhee—anak perempuan itu—menarik nafas dalam, menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Ah, aroma negara kelahirannya benar-benar membuat mood-nya membaik.

Pintu kedatangan bandara cukup ramai. Manik coklatnya langsung bergerak memperhatikan satu-persatu wajah orang-orang yang berdiri di pagar pembatas. Ada sedikit rasa kecewa saat menyadari orang yang dicarinya tidak berada di antara orang-orang itu. Dengan langkah pelan, ia memilih menuju salah satu cafe di dalam bandara untuk menunggu.

Baru saja sneaker merah yang membalut kakinya menginjak pintu masuk cafe, sosok seorang wanita yang sangat familier tertangkap maniknya. Saat menoleh, wanita yang tampak tengah terburu-buru itu langsung menghentikan langkahnya tak jauh dari tempat Jinhee berdiri.

“Jinhee-a.” Suara wanita itu terdengar bergetar saat memanggil nama Jinhee dari celah bibirnya. Dari tempatnya berdiri, Jinhee dapat melihat kedua manik hitam wanita itu mulai berkaca-kaca.

Detik berikutnya, sebuah senyuman kembali menghiasi bibirnya saat wanita itu menarik dirinya ke dalam pelukan hangat. Pelukan dari seorang ibu yang sangat ia rindukan.

#2. Lee Taemin.

“Oh, Taemin. Kau sudah datang?”

Taemin tersenyum mendapati Lee Hana—adik ayahnya—sedang menuang susu segar ke dalam gelas saat ia memasuki ruang makan. Wanita itu masih tetap cantik walaupun usianya sudah hampir memasuki kepala lima. Ia menarik sebuah kursi di dekatnya sebelum mengambil sepotong sandwich yang tersedia di atas meja makan.

“Taemin, maaf ya kalau bibi merepotkanmu.”

Mulut Taemin yang sedang penuh makanan berhenti mengunyah, ia menoleh ke arah Hana yang duduk di sampingnya.

“Hanya kau yang bisa bibi minta tolong untuk menjaganya,” lanjut Hana sambil menatap Taemin dengan tatapan teduh miliknya.

“Bibi,” ujar Taemin setelah menelan semua makanan dalam mulutnya. “Ini tidak merepotkanku sama sekali. Aku malah merasa senang bisa bersama dengannya lagi.”

Bibir Hana melengkung membentuk sebuah senyuman, tangannya terulur mengusap puncak kepala Taemin penuh kasih sayang. “Terimakasih, Taemin.”

Taemin mengangguk, lalu menoleh sekilas ke arah tangga yang tak begitu jauh dari meja makan. “Kenapa dia belum turun?”

Hana ikut menoleh ke arah tangga, kemudian menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Benar. Sebentar, bibi li—oh! Kau sudah siap?”

Taemin yang hendak mengambil sepotong sandwitch lagi langsung mengurungkan niatnya. Ia menoleh dan mendapati seorang anak perempuan dengan seragam sekolah yang sama dengannya berdiri di tangga, menatap ke arahnya.

“Hai!” Taemin melambaikan tangannya, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman lebar. “Apa kabar, Jinhee-a?”

#3. Jung Soojung

Sebuah Marcedes Benz hitam mengkilap melaju pelan memasuki gerbang salah satu sekolah elit di kota Seoul, sebelum akhirnya berhenti tepat di pelataran parkir khusus mobil. Seorang anak perempuan cantik keluar dari pintu penumpang diikuti seorang anak laki-laki tampan dari pintu pengemudi.

Seperti biasa, para murid yang sedang berjalan di koridor langsung menyambut kehadiran dua orang itu dengan berbagai macam tatapan. Soojung dan Daehyun, pasangan kembar yang sangat terkenal di sekolah itu. Selain memiliki tampang yang bisa dibilang sempurna, kekuasaan sang ayah atas kepemilikan saham yayasan tertinggi membuat mereka memiliki pengaruh besar di sekolah.

Suasana kelas yang sudah ramai menyambut kehadiran keduanya. Soojung langsung melangkah menuju tempat duduknya yang terletak di tengah kelas, berbeda dengan tempat duduk Daehyun yang terletak di samping jendela.

“Ya! Minggir!” Sebuah teriakan dari pintu kelas membuat semua yang berada di dalam kelas menoleh. Seorang anak perempuan dengan tinggi menjulang tampak menerobos kumpulan murid laki-laki di depan kelas dengan brutal.

“Soojung-a! Ada berita besar!”

Soojung menaikkan salah satu alisnya saat melihat anak perempuan itu berlari menghampirinya dan hampir saja terjatuh saat kakinya tidak sengaja menyandung sebuah kursi.

“Berita apa?” tanya Soojung sambil mendongak untuk melihat wajah anak perempuan yang telah duduk di atas mejanya.

“Ada murid baru. Perempuan.”

Kelas langsung heboh dengan sorakan gembira para murid laki-laki. Soojung berdecak pelan sambil memutar kedua maniknya, tidak tertarik sama sekali.

“Datang bersama Taemin.”

Dan saat itu juga, raut Soojung langsung berubah.

#4. Jung Daehyun

Daehyun, kau dimana? Soojung bertengkar dengan murid baru di kelas!

Manik Daehyun menyipit saat membaca pesan baru yang tertera di layar ponselnya. Dengan gerakan cepat, anak laki-laki itu membalikkan tubuhnya kemudian berlari menuju kelasnya.

Saat tiba di koridor kelasnya, gerombolan para murid terlihat berdesakan di depan pintu serta jendela kelas, sibuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam kelas. Daehyun berdecak pelan sebelum melangkahkan mendekati pintu kelas. Beberapa murid yang menyadari kehadirannya langsung menyingkir, seakan memberinya jalan.

Setibanya di dalam kelas, kedua maniknya langsung membulat dengan mulut yang sedikit terbuka saat melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya. Disana, tepatnya di tempat duduk yang terletak tepat di tengah kelas terlihat sosok anak perempuan tengah mencengkram erat kerah baju Soojung.

Dengan langkah cepat, Daehyun menghampiri kedua anak perempuan yang kini tengah menjadi pusat perhatian hampir seluruh murid. Tangannya langsung bergerak menarik paksa lengan anak perempuan itu untuk melepaskan cengkramannya pada baju Soojung.

“Apa yang kau lakukan, hah!” bentak Daehyun pada anak perempuan di hadapannya. Bukannya menjawab, anak perempuan itu sibuk melepaskan lengannya dalam cengkaraman erat tangan Daehyun. Menyadari itu, Daehyun langsung melepaskan cengkaramannya kemudian menoleh ke arah Soojung yang tengah merapikan bajunya sambil melemparkan tatapan tajamnya kepada anak perempuan itu.

“Minggir!” sebuah teriakan yang cukup kecang membuat Daehyun menoleh. Maniknya menangkap sosok Taemin yang muncul di antara kerumunan para murid dengan tampang berantakan. Bersamaan dengan itu Daehyun merasakan tarikan pelan pada bajunya.

“Kau benar-benar menyusahkanku,” ujar Daehyun pada Soojung di belakangnya tanpa melepaskan tatapan dari sosok Taemin yang tengah menatap cemas anak perempuan di hadapannya.

#5. Kwon Hara

Dengan kedua tangan yang penuh tumpukan buku teman sekelasnya, Hara terpaksa harus menepi hingga tubuh mungilnya menempel pada dinding koridor di sebelahnya saat segerombolan siswa berlari heboh menuju satu arah.

Keningnya mengerut ketika maniknya menangkap keramaian di depan sebuah kelas yang terletak di ujung koridor. Penasaran, Hara melangkahkan kakinya mendekat ke arah keramaian itu. Namun ketika dirinya hampir sampai, kedua kakinya refleks berhenti melangkah ketika melihat sosok Taemin keluar dari kerumunan itu sambil menggandeng tangan Soojung di belakangnya.

“Kenapa mereka?” gumam Hara sambil tetap menatap sepasang kekasih itu sampai menghilang di balik tikungan menuju taman belakang.

“Waa, daebak. Berani sekali anak baru itu!”

“Aku yakin setelah ini dia akan mendapat masalah.”

Hara menolehkan kepala ketika mendengar beberapa pembicaraan para siswa yang masih bertahan di antara kerumunan. Dengan langkah pelan, Hara kembali mendekat dan langsung menempatkan dirinya di dekat jendela kelas yang tidak begitu padat.

“Kau sedang apa?”

Baru saja akan menjinjitkan kakinya agar bisa melihat ke dalam kelas. Sebuah suara yang tidak begitu asing menyapanya. Ketika menoleh kesamping maniknya menangkap sosok jangkung seorang anak laki-laki sedang menatapnya dengan heran.

“Ah, itu…”

“Itu catatan yang akan digunakan untuk ulangan nanti ‘kan?” Anak laki-laki itu memotong cepat sambil menunjuk tumpukan buku dalam pelukan Hara.

“Oh, iya.”

“Aish! Kenapa kau masih disini bukannya langsung membagikannya di kelas?”

“Maaf, tadi aku…”

“Sudahlah, ayo kita tidak ada waktu lagi.”

Tanpa pikir panjang, anak laki-laki itu mengambil alih tumpukan buku dari Hara dan menarik salah satu tangan Hara untuk menuju kelas mereka.

“Ya! Tunggu…” Hara tidak melanjutkan kalimatnya saat menyadari sosok Daehyun yang telah berdiri tak jauh darinya. Sejenak, maniknya sempat bertemu tatap dengan manik tajam Daehyun.

.

Little Story [Prolog].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s